Memilih Bidang Spesialis

Salah satu hal yang sulit dijawab ketika menjadi dokter umum adalah pertanyaan: “Kapan spesialis?” atau pertanyaan “Mau spesialis apa?”. Level galaunya mendekati ditanya “Kapan nikah?” buat beberapa orang, hehehe. Apalagi kalau teman-teman seangkatan kebanyakan sudah memasuki tahap sekolah spesialis yang disebut juga PPDS atau residensi. Beeeuuuh peer pressure-nya lumayan juga 😀

Memilih spesialisasi, beneran mirip kaya milih jodoh. Masalahnya adalah, spesialisasi itu adalah program yang akan dijalani seumur hidup. Yang mungkin akan menyita waktu, tenaga, pikiran, uang, dsb. Pertimbangannya banyak, mulai dari minat, potensi pengembangan, potensi ini ityu, hambatan profesinya, dll. Tidak sedikit juga yang ketika sudah mengambil satu spesialisasi, kemudian berhenti di tengah jalan dan mengambil bidang spesialisasi yang lain. Kebayang kan, kita menghabiskan waktu dan mengorbankan banyak hal untuk hal yang kita gak minat, atau justru gak bisa menjadi potensi kebaikan dan amal sholeh untuk kita. Sayang banget 😦

Buat saya pun sama sulitnya, mencoba membaca diri, melihat minat & potensi, menimbang kebutuhan, menilai kemampuan diri & keluarga, memproyeksikan potensi amal sholeh dengan menjadi spesialis, bikin pusing kepala. 😀

Setelah menjalani kehidupan dokter umum selama 4 tahun terakhir, ada beberapa hal yang saya nilai dari diri sendiri:

  1. Saya kerja lebih efektif di lingkungan yang high-pace. I can think quick in emergency setting, dan lebih jernih aja gitu kepala rasanya. Slow-pace bikin saya cenderung hilang fokus dan konsentrasi, and ergh boring.
  2. I secretly love the adrenaline when being involved in crisis. CODE BLUE = adrenaline rush = endorphin (guilty pleasure wk)
  3. Saya suka banget IGD, dan gak suka banget Poliklinik *easily bored in poli hiks.
  4. Saya suka berinteraksi sama pasien. But not too much/overly attached.
  5. Saya orangnya ceroboh; very very clumsy I must say. Jalan dikit barang kesenggol, megang barang dikit kelempar 😦
  6. I need balance in my working & personal life. Overtime work makes me cray-cray-crazyyy~ malah bawaannya jadi gak fokus. I need to see my  family.
  7. Daripada jadi spesialis tapi di area penunjang (radiologi, patologi, dsb), saya mendingan jadi dokter umum di IGD. Intinya, dokter umum IGD is not a bad choice at all, daripada saya harus maksain jadi spesialis di area yang gak saya suka.

Dari assessment diatas, ada beberapa bidang yang saya minati:

  1. Anestesiologi & Terapi Intensif
  2. Pediatrik/Anak
  3. Bedah

Tiap departemen ada kelebihan dan kekurangannya, but you know you just can’t have it all, instead you have to embrace it in one package kan ya jd ya sikat aja hadapi all the ups and downs. Not all golds are glitters.

So far persiapan yang saya lakukan udah kerucut banget ke bidang Anestesiologi & Terapi Intensif, tapi masih ada beberapa keraguan yang muncul selalu;

  • “Can I have ‘that’ balance?” karena katanya PPDS Anestesi itu sibuknya banget 😦
  • “Do I smart enough?”
  • “What about my clumsiness, can I get over with?”
  • “Is this what I want to do in the rest of my life?” *edun lebay wkwk*
  • “Can I really interact with patients?” — somehow I still want to
  • dll.

But sometimes I also think, that predict faaaaar further in the future do you more harm than it actually will -__-” intinya jalani aja dulu. Don’t overly cautious about what will happen, what meant to be will be! When it’s yours, it will always be. When its not, it will never be, not even a chance.

When things get tough, the tough gets going.

Sekian curhatan saya, kalau tidak ada aral melintang mudah-mudahan awal tahun depan lanjut daftar PPDS Anestesiologi & Terapi Intensif. Do’akan yaa…

IMG_0121
Instagram @anestesia.fkuirscm
Advertisements