Surviving First Year for Working Mother (esp if you’re in medicine)

Terkait blogging, saya terinspirasi banget sama Laura Lacquer, seorang dokter yg lagi residen, yang punya suami juga seorang residen (dua-duanya dari Harvard maaak). Punya anak 3, dan their juggling is so real! Bukan serba mudah dan keren tapi asa mahiwal seperti yang sering saya liat di social media (bikin maknyess), the struggle is real, but they pass (and endure) through it!

Kaitannya juga sama ayah saya selalu berpesan, banyak sekali ibu-ibu yang kalau udah punya anak shutting down themselves from the outer world, in his words, dia bilang lebay. Beliau gak mau liat anaknya sampai begitu. Mungkin dia tau anaknya super motil ya.

Tapi seriusan deh, fase awal melahirkan dan punya anak beneran fase kaget dan adaptasi luar biasa. Lebay aslii! Clueless, dan lelah g ada ujungnya :)) apalagi sampai jafar 10 bulan-an semuanya all by myself (dan karena LDR jg yaa sama suami), berat badan sy turun 25 kg lebih.

Nah, ini sebagai gambaran aja, apa aja yang saya kerjain sampai harus ada surviving first year: dokter IGD di sebuah RS Swasta tipe B kota Bandung yang pasiennya buanyak banget kaya RSUD :(, saya juga sedang develop Medulab bersama teman-teman dimana saya bertanggungjawab untuk akademik & operasional (yang butuh sangat mobile kesana sini), kegiatan pengajian&mentoring rutin pekanan, dan lain-lain.

Here’s what I did for Jafar’s first year:

IMG_0747
Jafar 1 tahun

‘You can have all the hats you want, but you can only wear one hat at a time.’

Ini sebenernya pemacu saya untuk optimis bahwa kita bisa melakukan banyak hal. Orangtua saya juga selalu berpesan, buktikan sebesar-besar rasa syukurmu dengan berkarya seluas mungkin. Kita bisa mengerjakan dan menjadi banyak hal. Kita bisa berkarya di berbagai tempat.

Tapi, ya we can only wear one hat a time. Saat saya sedang praktek, saya adalah dokter. Fokus. Saat saya dirumah, saya curahkan semua diri saya untuk keluarga. Saat saya sedang diluar, saya lakukan semaksimal mungkin apa yang jadi tugas saya. Jangan sampai saat kita sedang melakukan satu peran, pikiran dan jiwa kita sedang menjalani peran lain (kayak film hantu kesurupan wkwk, gak deng becanda). Semua kerjaan kita bakalan jadi berantakan, dan butuh waktu lebih lama untuk dituntaskan. Akhirnya peran kita yang lain jd terbengkalai.

Jaga malam sesedikit mungkin

This is my privilege, actually. Bersyukur banget alhamdulillah tempat kerja saya yg sekarang sangat akomodatif terhadap request ini. Tapi saya tau, bahwa g semua emak-emak dokter punya kemudahan ini.

Berhubung Jafar belum bisa night weaning, alias kalau malam masih nempel kaya perangko nyusu gak bisa lepas, jadi kalau saya jaga malam (pernah beberapa kali) memang agak drama. Nangis-nangis terus, sampai sesenggukan manggil Ibu. Kalau lg kaya gini, Jafar tidur sama neneknya. Disinilah pentingnya supporting system, yang tentu gak akan terjadi dalam 1 malam tapi harus dikondisikan dari awal. Sejak bayi kecil banget Jafar saya biasakan untuk dekat dengan semua anggota keluarga (nenek, kakek, om-omnya, dll). Supaya kalau kita gak ada, dia gak terlalu kaget dan kesepian.

IMG_2020
Om Ibrahim kesayangan Jafar

Terus kalau nangis gimana, ya dipeluk didekap dikelonin sama neneknya. Nangisnya berhenti juga walaupun lama. Tapi seiring waktu ditinggal jaga, nangisnya semakin sebentar. Dan waktu kita pulang lepas jaga, rasanya dia udah kangen banget mungkin ya, jadi setelahnya nemplok melepas rindu.

Saya juga bukan tipe Ibu yang gak bisa banget liat anak nangis ehehe. Ya kalaupun sampai nangis, asalkan dia aman, nyaman, diberi pengertian, dan itu merupakan proses belajarnya dia, ya mungkin tangisan itu bentuk proses aja.

Latih anak sesegera mungkin untuk bisa pakai botol

Nah ini salah satu yg penting banget. Pas fase newborn, ada waktu menyusui yang sengaja saya seling dengan pake susu botol supaya ada waktu istirahat, terutama saat perasaan udah g karu-karuan, alias kelelahan fisik udah hampir ngasih efek ke mental.

IMG_0426
Kalau lagi kerja harus rajin pompa, supaya ASI tetap lancar dan bisa stok ASIP

Pas Jafar juga udah lewat fase newborn, karena tau saya bekerja, dan ada beberapa kondisi yang mungkin harus ninggalin dia lebih dari 5-6 jam, ya mau g mau harus bisa pake botol. Karena udah gede dn makin ngerti, awalnya protes banget kaya mau perang, mana Jafar anak #nenengariskeras, sampai akhirnya pernah pas saya lagi jaga ibu saya bawa Jafar ke IGD buat disusuin saking g maunya pake dot. 😦

Tapi ya itu, semua juga adaptasi, nangis itu bentuk proses juga sebenernya. Lama-lama kayaknya (entah gimana) Jafar paham juga mungkin, daripada kelaperan mending pake dot. Dan sampai sekarang alhamdulillah mau pake dot kalo saya g ada.

Let ‘the help’ helps

Ini potensi problem buat ibu-ibu yang nitipin anaknya ke mbak atau sitter. We are not letting the help actually helps. Apalagi awalnya nih, buat saya yang hands on full buat Jafar A sampai Z dari lahir, terus ngeliat dia dipegang orang lain bikin saya serba gak puas dan geregetan. Adaaaa aja komplennya, kaya induk kucing liat anaknya diganggu *rawrrr.

Disinilah mungkin titik dimana kita harus reflect, dan take a step back untuk mikir. Sebenernya kondisi bagaimana yang kita inginkan. Kalau insist untuk bekerja, ya mau g mau anak harus ada di lingkungan aman yg kondusif. Dimana lingkungan ini gak ujug-ujug ada, tapi dibangun dan diciptakan. Kalau segitunya sulit percaya sama orang, ya mungkin opsi berhenti bekerja harus beneran dipikirin. Karena yang dititipin juga kasian, ujung-ujungnya anak kita yg jadi korban. Naudzubillah.

Terkait ini, solusinya saya banyak ngobrol sama suami. Dari suami, yang memang lebih tenang dan solutippp tanpa emosi dibanding saya, wkwk. Suami bilang, anggap orang yang bantu kita itu opportunity, bukan threat (kalo pake teori SWOT yhaa). Kalau selalu kita anggap threat/ancaman, takut anak jd lebih deket ke dialah, takut anak diajarin gak benerlah, dan segala macem ketakutan lainnya, ya mau gimana juga gak akan bener. Tapi anggap opportunity, yang artinya dia punya potensi (dan harus) untuk diarahkan, diajari, dikasih rules&boundaries, dll. Let ‘the help’ actually helps

Don’t let your child outgrow you, yet.

Ini nyambung nih sama postingan sebelumnya tentang tenaga bantuan kalo kita lagi kerja. Inget, walaupun ada bantuan, tapi kita tetep adalah orangtuanya. We are the one who take control and make rules.

Ya kalau kita sudah dirumah atau lagi gak pegang kerjaan, anak full hands on sama kita. Jangan sampai saking seringnya anak sama mbak/pengasuh kita jadi lupa cara mandiin, ngasih makan, dll. *gubrak. Jangan merasa incapable ngurus anak tanpa bantuan. 

IMG_0321
Ta’ gendong kemana mana Bandung Jakarta Riau Medan Surabaya Makassar Manado hantaaammm. Biasanya plus koper + tas ibu + laptop

Kalau saya, salah satu caranya supaya saya gak pernah ngerasa ‘kewalahan’ ngurus anak sendirian adalah nekat pergi berdua aja sama Jafar. Alhamdulillah karena LDR, jd saya sering traveling keluar kota berdua aja. Kalo lagi di bandung/jakarta jalan-jalan berdua aja kesana kesini. Naik gojek duaan. Makan sushi tei depan-depanan sambil sok ngobrol kaya orang gede :)) Selain bonding, ngelatih team work, dan ngasih kepercayaan diri juga bahwa kita bisa full hands on (walaupun rempong bingits).

Say No

Ini penting banget buat dilatih, karena seringnya kita takut bilang Tidak. Set things straight, and prioritize. Ingeeeet, banyak peran yang kita jalani. Kalau mau bisa ngerjain semuanya, we must put STOP on everything that doesn’t matter in the moment.

Jangan jadi yes woman dan banyak mengorbankan hal-hal penting. When your child is sick, everything else CAN wait.

Accept feeling guilty

Naini, racun banget buat ibu-ibu. Feeling guilty.

Banyak banget hal yang terjadi dan merasa kita sangat incapable semacam remahan di lantai. Merasa inadequate jadi ibu karena kita gak bisa full disamping anak, gak bisa maksimal jadi dokter, jadi anak, jadi kakak, jadi leader, dannn semua peran-peran kita yang lain. Being guilty adalah hal yang manusiawi, hal yang harus diterima. But we have to get over it dan move on.

Terkait menjadi ibu yang gak selalu ada disamping anak, saya selalu inget orangtua saya. Mereka sibuk luar biasa, tapi gak bikin ikatan antara orangtua-anak juga jadi renggang. Kalau kata mbak Laura, “You don’t need to be there every second of your kids’ life for them to know they’re loved”. InsyaAllah perjuangan keluarga, keridhoan suami, istri, anak untuk keluarganya beramal sholeh jadi pahala buat semuanya.

Dan kalau misalkan terjadi badai lagi yang bikin potensi kita merasa bersalah, selama saya menjalani kehidupan sebagai Ibu selama 16 bulan ini, intinya sih ya terus usaha perbaiki yang kita bisa, try to make it work.

You make it work. We rise to whatever the situation demands, and through this we achieve greatness. It’s nice to be in a comfort zone, but we only grow by leaving that comfort zone and taking on the next challenge.

Me time is no crime

Happiest mother is the greatest ❤

IMG_2612
Bonding time ❤ ❤ ❤

***

Oke ini udah panjang banget, saatnya postingan ini disudahi. Besok jaga IGD pagi! Please komen dibawah kalau teman-teman ada surviving tips dan pandangan lainnyaa ya, let’s have a discussion then, hehe :*

Bandung, 24 April 2018

Jafar 16 bulan

One thought on “Surviving First Year for Working Mother (esp if you’re in medicine)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s