Why it’s so hard to write again?

HEJ!

Assalamu’alaikum, dimulai dengan bahasa swedia ya, HEJ! means HEY!  karena sekarang saya tinggal tetanggaan sama toko favorit kita bersama: IKEA, ehehe. Gak depan-depanan banget sih, daerah Alam Sutera, tapi yaa less than 10 minutes lah. The yellow-blue banner is in front of my eyes! *squee

Karena per Agustus ini suami saya mulai magang ortopedi di RSUD Kabupaten Tangerang, plus juga masih kerja di RS Sari Asih Ciledug (OMG tight schedule mamak wanna craaay~). Dengan jadwal yang ada, sulit untuk bolak balik Bandung-Jakarta sesering kemarin, jadi selama magang ini kami sekeluarga akan banyak menetap di Tangerang, lokasinya tengah-tengah antara dua RS tersebut.

Mulai juga tinggal serumah sekeluarga kecil, belajar mengelola rumah sendiri setelah selama menikah 1,5 tahun ini nemplok di bandung semua serba mudah (memang yaa pengeluaran saat masih tinggal dirumah orangtua itu bisa sangat ditekan…). Motherhood, familyhood, dan burung hood-hood sejenisnya is indeed upscale your managerial skill above the clouds level ya. Multitasking semua harus beres. Jam 9 waktu limit saya: nyapu, ngepel, cuci piring, lap-lap, sarapan keluarga (plus bayi), dan jafar sudah mandi. Semakin siang rumah beres, semakin sedikit to do list harian yg bisa dilakukan. Rumah berantakan daku rungsing seharian pula T___T No wonder ya turun BB sampai >25 kg. No nanny, no ART. Semangat Ibuuuu *otot*

Oke move on dari rumah…

Belakangan inipun saya semakin ngeh,

  1. Semakin introvert sama personal things ya, terutama keluarga, perasaan terdalam *haiyyah*. Bahkan sekedar nulis caption panjang-panjangpun sulit, caption curhat gitu sulit bahkan gak bisa. Skrg yang pendek-pendek aja to the point.
  2. Lebih tidak tertarik dwelling into feelings; kalo kata anak-anak Medulab: ANTI GALAU. Mungkin lebih ke arah menarik diri dari hal-hal yang terlalu dramatis dan melankolis ya. Yang pasti-pasti aja harus dikerjainlah.
  3. I found it hard untuk MENULIS, secara disiplin. Banyak hal yang ingin saya share, diskusikan. Tapi kenapa jari ini tak lagi gemulai menari di atas keyboard *apazik* ehehe.

AND… I’m officially turning 26!

My life turning point of 26, is, definitely, being a mother. Amanah yang luar biasa yang Allah titipkan. Mudah-mudahan kami bisa menjaga amanah ini dengan baik, mengantarkan keluarga ini menuju ridho Allah yang sejati.

Ja’far Ahmad Prawira, selamat datang di kehidupan Ibu.

 

FullSizeRender 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s