A 2014 rendezvous: Hongkong Departure Story

(A throwback post from 2014)

Sekarang saya sedang berada dalam perjalanan pesawat menuju… Jakarta. Bukan buat pulang kampung, tapi buat travelling part kesekian ke… Hongkong. Kurang random gimana ya kan? Dokter internsip di kota Bau-Bau tapi jalan-jalan jauh.

Sebenernya bisa-bisa aja, soalnya skrg saya lagi stase IGD. Bisa libur asalkan yang lain mau cover. Dan teman-teman saya yang baik-baik dan lucu-lucu itu *uhuk* juga pada mau pulang dan dengan senang hati mau saling menggantikan.

Sepupu-sepupu saya, ya mostly sih g semua, pada liburan kesana semua, kira-kira ber 15. Dan saya udah dibeliin tiket. Ayah mengizinkan dan malah instruksikan pergi, saya yang sebenernya agak mager ini jadi berangkat. Booo, dari Bau-Bau ini berangkatnya, bukan Bandung. Ngebayangin perjalanannya aja udah males duluan hiks. Cape -,-

Ya kapan lagi liat Hongkong gratis. Ya gak gratis sih, tiket Baubau-Jakarta ttp byr sendiri huhuhu. AUUUMMMM!

***

IMG_9482

12 jam di pesawat = kelelahan yang HQQ

Yak lanjut nulis yg kepotong, skrg sy di pesawat menuju HK. *fyuuuuhh

Banyak diberi kesempatan travelling ke berbagai tempat, yang berbeda-beda, melihat banyak hal, dan merasakan langsung, semoga membuat saya makin pandai menelusuri hikmah dan pelajaran. Makin awas dalam melihat dan berpendapat.

Bahkan di perjalanan awal aja udah banyak masalah terjadi. Saya rencana bawa ikan tuna segede batang pohon kelapa dgn panjang 1-1,5 meter (asli guede) 4 ekor buat pompo, udah ngurus segala macam izin di Departemen Perikanan dan bikin surat pengantar eeeh di bandara dicegat dan ditahan. Batal. Pas di bandara Makassar pesawat delay, akhirnya saya (demand dengan keras ke lion air) pindah pesawat eeeetapi bagasi saya g ikut pindah masih di pesawat yg delay. Padahal saya harus connecting flight ke hongkong siangnya langsung.

It’s a miracle to actually sit here, writing things to you, INSIDE this airplane, on my way to HK. Perjuangan ini booooo~ *exhaustion sigh* Kalau Allah takdirkan jadi berangkat, mau jumpalitan segimanapun, kibar2 bendera putih, koprol dari terminal 1 ke terminal 2, pasti tetep bisa berangkat. Despite all difficulties that I have, there has been always bright lights in the end of the dark tunnels, leading me to find a way out. *lagi lebay*

It really is a big burden for me to travel here and there. Even if I go for a year to Buton, or even a short trip to any country. Because I will be expected to do better, to be better. That’s the tricky question -,- so I will forced myself to absorb, think, and learn things deeper abt whats happening in my surroundings during my personal trip. Hopefully, other expectation won’t turn into dissapointment. 😦

 

Our journey is personal. Even if I am travelling with you, your journey will not be mine. Nor I yours.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s