Memilih Bidang Spesialis

Salah satu hal yang sulit dijawab ketika menjadi dokter umum adalah pertanyaan: “Kapan spesialis?” atau pertanyaan “Mau spesialis apa?”. Level galaunya mendekati ditanya “Kapan nikah?” buat beberapa orang, hehehe. Apalagi kalau teman-teman seangkatan kebanyakan sudah memasuki tahap sekolah spesialis yang disebut juga PPDS atau residensi. Beeeuuuh peer pressure-nya lumayan juga 😀

Memilih spesialisasi, beneran mirip kaya milih jodoh. Masalahnya adalah, spesialisasi itu adalah program yang akan dijalani seumur hidup. Yang mungkin akan menyita waktu, tenaga, pikiran, uang, dsb. Pertimbangannya banyak, mulai dari minat, potensi pengembangan, potensi ini ityu, hambatan profesinya, dll. Tidak sedikit juga yang ketika sudah mengambil satu spesialisasi, kemudian berhenti di tengah jalan dan mengambil bidang spesialisasi yang lain. Kebayang kan, kita menghabiskan waktu dan mengorbankan banyak hal untuk hal yang kita gak minat, atau justru gak bisa menjadi potensi kebaikan dan amal sholeh untuk kita. Sayang banget 😦

Buat saya pun sama sulitnya, mencoba membaca diri, melihat minat & potensi, menimbang kebutuhan, menilai kemampuan diri & keluarga, memproyeksikan potensi amal sholeh dengan menjadi spesialis, bikin pusing kepala. 😀

Setelah menjalani kehidupan dokter umum selama 4 tahun terakhir, ada beberapa hal yang saya nilai dari diri sendiri:

  1. Saya kerja lebih efektif di lingkungan yang high-pace. I can think quick in emergency setting, dan lebih jernih aja gitu kepala rasanya. Slow-pace bikin saya cenderung hilang fokus dan konsentrasi, and ergh boring.
  2. I secretly love the adrenaline when being involved in crisis. CODE BLUE = adrenaline rush = endorphin (guilty pleasure wk)
  3. Saya suka banget IGD, dan gak suka banget Poliklinik *easily bored in poli hiks.
  4. Saya suka berinteraksi sama pasien. But not too much/overly attached.
  5. Saya orangnya ceroboh; very very clumsy I must say. Jalan dikit barang kesenggol, megang barang dikit kelempar 😦
  6. I need balance in my working & personal life. Overtime work makes me cray-cray-crazyyy~ malah bawaannya jadi gak fokus. I need to see my  family.
  7. Daripada jadi spesialis tapi di area penunjang (radiologi, patologi, dsb), saya mendingan jadi dokter umum di IGD. Intinya, dokter umum IGD is not a bad choice at all, daripada saya harus maksain jadi spesialis di area yang gak saya suka.

Dari assessment diatas, ada beberapa bidang yang saya minati:

  1. Anestesiologi & Terapi Intensif
  2. Pediatrik/Anak
  3. Bedah

Tiap departemen ada kelebihan dan kekurangannya, but you know you just can’t have it all, instead you have to embrace it in one package kan ya jd ya sikat aja hadapi all the ups and downs. Not all golds are glitters.

So far persiapan yang saya lakukan udah kerucut banget ke bidang Anestesiologi & Terapi Intensif, tapi masih ada beberapa keraguan yang muncul selalu;

  • “Can I have ‘that’ balance?” karena katanya PPDS Anestesi itu sibuknya banget 😦
  • “Do I smart enough?”
  • “What about my clumsiness, can I get over with?”
  • “Is this what I want to do in the rest of my life?” *edun lebay wkwk*
  • “Can I really interact with patients?” — somehow I still want to
  • dll.

But sometimes I also think, that predict faaaaar further in the future do you more harm than it actually will -__-” intinya jalani aja dulu. Don’t overly cautious about what will happen, what meant to be will be! When it’s yours, it will always be. When its not, it will never be, not even a chance.

When things get tough, the tough gets going.

Sekian curhatan saya, kalau tidak ada aral melintang mudah-mudahan awal tahun depan lanjut daftar PPDS Anestesiologi & Terapi Intensif. Do’akan yaa…

IMG_0121
Instagram @anestesia.fkuirscm
Advertisements

Travelling Notes: Yogyakarta (Part 1)

Assalamu’alaikum!

Mencoba kembali disiplin nulis, apa aja. Menulis buat saya rasanya lebih intim, hangat, dekat, personal, dan menenangkan. Beda sama social media, misalnya instagram atau path, publik disana (netizen kalo orang bilang) terlalu diverse, perbedaan latar belakang-ideologi-agama-pekerjaan-dll potensi bikin socmed war tinggi sekali, dan most of the time berdebat disana g ada manfaatnya selain cari musuh.

Maksud kita untuk menebar kebaikan tapi yang ditangkapnya justru berbeda karena memang social media terbatas sekali menyampaikan hal yang kita maksud. So, social media buat saya (sampai saat ini karena metode saya mgkn msh cupu) mostly masih cuma semacam daily journal yang sifatnya ringan-ringan saja ehehe. Jadi kebanyakan orang malah menebak-nebak, ini fulki sebenernya lagi ngapain sih? Saya juga gak merasa ada dalam posisi yang harus menjelaskan.

Blogging tetap jadi media terbaik saya untuk refleksi dan diskusi.

Saya baru aja kembali dari liburan ke Yogyakarta, asli yang ini perdana liburan. Bukan karena ada agenda pekerjaan/pelatihan. Hampir 1 tahun ke belakang, lumayan jadi tahun yang berat bagi suami saya. Beliau menjalani semua proses persiapan ujian PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis), mulai dari magang dan pindah sekeluarga ke Tangerang, keliling cari rekomendasi dan menyiapkan persyaratan sampai akhirnya menjalani rangkaian ujian PPDS.

Saya yang mengiringinya aja lelah apalagi yang menjalani. Makanya kami akhirnya memutuskan untuk refreshing sejenak, tarik napas panjang dan recharge.

Seru banget sih! Apalagi di usia Jafar yang sekarang (1 tahun 4 bulan), udah aktif banget kesana kesini, mulai ngerti kalo ditunjukin ini itu, makan udah bisa apa aja, dan bawaan udah gak serempong dulu. Walaupun tetep aja ya, liburan bawa anak gak boleh ambisius kaya dulu. Ada jadwal yang gak bisa dilawan; jadwal makan, po*p, dan tidur. Ehehe. Tapi kami tetap menikmati banget perjalanan ini. Bonding time bertiga dan melatih team work antara saya dan suami.

Kenapa Jogja? Karena dekat dan murah. Dan lagi karena 25% saya orang jogja, aslinya Sleman. Kakek saya 1000% orang jogja aseliii, dari rumah di sleman kt bisa liat gunung Merapi, ngitung tanggal masih pake aksara jawa. Ibu saya kalo masak, bahkan selera-karakter-kultur bukan cuma kalo masak,  jawa banget… jadi kangen gudeg T_T

HARI 1: BANDUNG-YOGYAKARTA

Bawaan ke Yogya bertiga bareng bayi:

  1. Koper satu buah isi pakaian dan semua yang bisa dimasukin (bapake ANTI bawa printilan dan tentengan kecil-kecil, jadi mending satu walaupun agak besar gapapa)
  2. Diaper bag ini buat bawaan bayi yang mobile dan bisa dibutuhin kapan aja, isi pampers, baju ganti, snack, minuman, minyak telon, dan emergency kit.
  3. Stroller, buat jafar ini penting karena waktu tidur doi gak bisa banget keganggu. Jadi kalo lg jalan-jalan bisa tidur siang di stroller. Penting banget buat toddler punya nap time yang proper supaya gak cranky. Sengaja kita emang punya stroller yang kecil dan bisa ringkas dibawa, bahkan bisa jadi ransel. Kita pilih baby city jogger karena dia bisa recline.
  4. Hip seat carrier, ini juga wajib bawa buat saya, karena sangat mungkin anak tiba2 minta gendong sedangkan kita lg riweuh bawa barang or turun naik kendaraan. Penting bawa gendongan yang gak pegel dan kedua tangan kita bisa bebas.
  5. Tas kecil Ibu, isi dompet, identitas diri (saya bawa passport kemana2 karena g ada KTP) dan HP.

Perjalanan Bandung-Yogya

Perjalanan ke Yogya dilalui via Jalur Darat, naik kereta api, hehe. Tiket perorang Rp 320.000,00 dan perjalanan ditempuh selama kurang lebih 8 jam. Bagaimana kondisi di kereta sambil bawa bayi?

Nikmati ajalah apapun kondisinya. 

Ada kalanya dia rewel, ya kita ajak jalan. Ada kalanya dia bobo, ya kita ikut bobo. Intinya, gak panik, dan be prepared for everything haha. Selama di kereta ya gantian aja saya sama suami ajak main, bawa ke gerbong resto, liat pemandangan, dll.

IMG_3427
Boboho sudah sampai di Jogja, stasiun Tugu sekarang udah jauh lebih bagus :’

Kami sampai ke Jogja kurang lebih pukul 4 sore, dan langsung menuju ke hotel di daerah Kaliurang. Sebelum ke hotel, melipir sebentar beli gudeg YuDjum dibungkus. Hari pertama agendanya: istirahat dan go-food ahaha. Cape juga di jalan pake kereta.

Dan kami menemukan makanan enak bangetttt di go-food rekomendasi @depepedia:

IMG_3448
TAHU WALIK OM TA, INI ENAK BANGEEET DAN MURAH T___T

HARI 2: KALIURANG – ULEN SENTALU – KOPI KLOTHOK – FILOSOFI KOPI – RATU BOKO

Ini hari paling ambisius ya, dan satu-satunya hari dimana kami sewa mobil biar puas dan terjangkau semua. Bawaan bayi pun bisa ringkes dalem mobil gak ditenteng. Sewa di jogja ini 275.000 sehari udah termasuk supir (murah banget).

Ulen sentalu tentu a must ya untuk museum jogja, sengaja pengen kesana lagi karena suami belum pernah.

 

IMG_3488
Satu-satunya area di Ulen Sentalu yang boleh foto, anak bayi manyun kepanasan

Setelah dari Ulen Sentalu kami makan siang di Kopi Klothok daerah Pakem, makanan rumahan Jogja yang terkenal dan hitz banget. Makanannya enakkk, berbagai jenis lodeh, TELUR DADARNYA TERBAIQQUE, sukaa sekaliii ❤ tapi karena tempatnya ngesang bin hot jeletot jd g smpt foto. Apalagi anak bayi tidur.

Dari kopi klothok kami mampir di cafe filosofi kopi, berhubung emak-emak ini doyan banget es kopi susu, sampe ngrengek-rengek suami minta dibeliin mesin kopi tapi tentu gak acc, haha. Ada dua kopi enak di Jogja yang saya go-food; hayati coffee & couvee, tapi yg saya kunjungi justru si filosofi kopi ini. Lokasinya agak jauh sebenernya, cuma karena kepo aja, hehe.

Destinasi terakhir kami hari itu adalah candi ratu boko, yang terkenal setelah film AADC 2. Tempat ini juga terkenal untuk menikmati sunset, jadi kami memilih kesana di akhir perjalanan kurang lebih jam 4 sore. Yang enak disini sebenernya karena lapangan rumput besar, bersih, udaranya segar dan pas banget golden hour sunset jadi cahayanya buaguuuss banget masya Allah. (jadi liat apa tho bu di ratu boko? kok malah rumput yg diinget? ahaha entahlah)

IMG_8680

Yah intinya happy lah hari kedua ini, bayi gak rewel dan sangat kooperatif. Ceria sekaliii :’) bisa lari kesana sini ngejar ayam menurut dia udah paling mbahagiakan. Alhamdulillah sederhana sekali anak kecil itu ya…

Perjalanan hari kedua ditutup dengan makan bakmi Pak Gito yang uenak tenan.

Bagaimana inihhh semua kuliner jogja saya sukaa ❤

Bersambung…

 

Surviving First Year for Working Mother (esp if you’re in medicine)

Terkait blogging, saya terinspirasi banget sama Laura Lacquer, seorang dokter yg lagi residen, yang punya suami juga seorang residen (dua-duanya dari Harvard maaak). Punya anak 3, dan their juggling is so real! Bukan serba mudah dan keren tapi asa mahiwal seperti yang sering saya liat di social media (bikin maknyess), the struggle is real, but they pass (and endure) through it!

Kaitannya juga sama ayah saya selalu berpesan, banyak sekali ibu-ibu yang kalau udah punya anak shutting down themselves from the outer world, in his words, dia bilang lebay. Beliau gak mau liat anaknya sampai begitu. Mungkin dia tau anaknya super motil ya.

Tapi seriusan deh, fase awal melahirkan dan punya anak beneran fase kaget dan adaptasi luar biasa. Lebay aslii! Clueless, dan lelah g ada ujungnya :)) apalagi sampai jafar 10 bulan-an semuanya all by myself (dan karena LDR jg yaa sama suami), berat badan sy turun 25 kg lebih.

Nah, ini sebagai gambaran aja, apa aja yang saya kerjain sampai harus ada surviving first year: dokter IGD di sebuah RS Swasta tipe B kota Bandung yang pasiennya buanyak banget kaya RSUD :(, saya juga sedang develop Medulab bersama teman-teman dimana saya bertanggungjawab untuk akademik & operasional (yang butuh sangat mobile kesana sini), kegiatan pengajian&mentoring rutin pekanan, dan lain-lain.

Here’s what I did for Jafar’s first year:

IMG_0747
Jafar 1 tahun

‘You can have all the hats you want, but you can only wear one hat at a time.’

Ini sebenernya pemacu saya untuk optimis bahwa kita bisa melakukan banyak hal. Orangtua saya juga selalu berpesan, buktikan sebesar-besar rasa syukurmu dengan berkarya seluas mungkin. Kita bisa mengerjakan dan menjadi banyak hal. Kita bisa berkarya di berbagai tempat.

Tapi, ya we can only wear one hat a time. Saat saya sedang praktek, saya adalah dokter. Fokus. Saat saya dirumah, saya curahkan semua diri saya untuk keluarga. Saat saya sedang diluar, saya lakukan semaksimal mungkin apa yang jadi tugas saya. Jangan sampai saat kita sedang melakukan satu peran, pikiran dan jiwa kita sedang menjalani peran lain (kayak film hantu kesurupan wkwk, gak deng becanda). Semua kerjaan kita bakalan jadi berantakan, dan butuh waktu lebih lama untuk dituntaskan. Akhirnya peran kita yang lain jd terbengkalai.

Jaga malam sesedikit mungkin

This is my privilege, actually. Bersyukur banget alhamdulillah tempat kerja saya yg sekarang sangat akomodatif terhadap request ini. Tapi saya tau, bahwa g semua emak-emak dokter punya kemudahan ini.

Berhubung Jafar belum bisa night weaning, alias kalau malam masih nempel kaya perangko nyusu gak bisa lepas, jadi kalau saya jaga malam (pernah beberapa kali) memang agak drama. Nangis-nangis terus, sampai sesenggukan manggil Ibu. Kalau lg kaya gini, Jafar tidur sama neneknya. Disinilah pentingnya supporting system, yang tentu gak akan terjadi dalam 1 malam tapi harus dikondisikan dari awal. Sejak bayi kecil banget Jafar saya biasakan untuk dekat dengan semua anggota keluarga (nenek, kakek, om-omnya, dll). Supaya kalau kita gak ada, dia gak terlalu kaget dan kesepian.

IMG_2020
Om Ibrahim kesayangan Jafar

Terus kalau nangis gimana, ya dipeluk didekap dikelonin sama neneknya. Nangisnya berhenti juga walaupun lama. Tapi seiring waktu ditinggal jaga, nangisnya semakin sebentar. Dan waktu kita pulang lepas jaga, rasanya dia udah kangen banget mungkin ya, jadi setelahnya nemplok melepas rindu.

Saya juga bukan tipe Ibu yang gak bisa banget liat anak nangis ehehe. Ya kalaupun sampai nangis, asalkan dia aman, nyaman, diberi pengertian, dan itu merupakan proses belajarnya dia, ya mungkin tangisan itu bentuk proses aja.

Latih anak sesegera mungkin untuk bisa pakai botol

Nah ini salah satu yg penting banget. Pas fase newborn, ada waktu menyusui yang sengaja saya seling dengan pake susu botol supaya ada waktu istirahat, terutama saat perasaan udah g karu-karuan, alias kelelahan fisik udah hampir ngasih efek ke mental.

IMG_0426
Kalau lagi kerja harus rajin pompa, supaya ASI tetap lancar dan bisa stok ASIP

Pas Jafar juga udah lewat fase newborn, karena tau saya bekerja, dan ada beberapa kondisi yang mungkin harus ninggalin dia lebih dari 5-6 jam, ya mau g mau harus bisa pake botol. Karena udah gede dn makin ngerti, awalnya protes banget kaya mau perang, mana Jafar anak #nenengariskeras, sampai akhirnya pernah pas saya lagi jaga ibu saya bawa Jafar ke IGD buat disusuin saking g maunya pake dot. 😦

Tapi ya itu, semua juga adaptasi, nangis itu bentuk proses juga sebenernya. Lama-lama kayaknya (entah gimana) Jafar paham juga mungkin, daripada kelaperan mending pake dot. Dan sampai sekarang alhamdulillah mau pake dot kalo saya g ada.

Let ‘the help’ helps

Ini potensi problem buat ibu-ibu yang nitipin anaknya ke mbak atau sitter. We are not letting the help actually helps. Apalagi awalnya nih, buat saya yang hands on full buat Jafar A sampai Z dari lahir, terus ngeliat dia dipegang orang lain bikin saya serba gak puas dan geregetan. Adaaaa aja komplennya, kaya induk kucing liat anaknya diganggu *rawrrr.

Disinilah mungkin titik dimana kita harus reflect, dan take a step back untuk mikir. Sebenernya kondisi bagaimana yang kita inginkan. Kalau insist untuk bekerja, ya mau g mau anak harus ada di lingkungan aman yg kondusif. Dimana lingkungan ini gak ujug-ujug ada, tapi dibangun dan diciptakan. Kalau segitunya sulit percaya sama orang, ya mungkin opsi berhenti bekerja harus beneran dipikirin. Karena yang dititipin juga kasian, ujung-ujungnya anak kita yg jadi korban. Naudzubillah.

Terkait ini, solusinya saya banyak ngobrol sama suami. Dari suami, yang memang lebih tenang dan solutippp tanpa emosi dibanding saya, wkwk. Suami bilang, anggap orang yang bantu kita itu opportunity, bukan threat (kalo pake teori SWOT yhaa). Kalau selalu kita anggap threat/ancaman, takut anak jd lebih deket ke dialah, takut anak diajarin gak benerlah, dan segala macem ketakutan lainnya, ya mau gimana juga gak akan bener. Tapi anggap opportunity, yang artinya dia punya potensi (dan harus) untuk diarahkan, diajari, dikasih rules&boundaries, dll. Let ‘the help’ actually helps

Don’t let your child outgrow you, yet.

Ini nyambung nih sama postingan sebelumnya tentang tenaga bantuan kalo kita lagi kerja. Inget, walaupun ada bantuan, tapi kita tetep adalah orangtuanya. We are the one who take control and make rules.

Ya kalau kita sudah dirumah atau lagi gak pegang kerjaan, anak full hands on sama kita. Jangan sampai saking seringnya anak sama mbak/pengasuh kita jadi lupa cara mandiin, ngasih makan, dll. *gubrak. Jangan merasa incapable ngurus anak tanpa bantuan. 

IMG_0321
Ta’ gendong kemana mana Bandung Jakarta Riau Medan Surabaya Makassar Manado hantaaammm. Biasanya plus koper + tas ibu + laptop

Kalau saya, salah satu caranya supaya saya gak pernah ngerasa ‘kewalahan’ ngurus anak sendirian adalah nekat pergi berdua aja sama Jafar. Alhamdulillah karena LDR, jd saya sering traveling keluar kota berdua aja. Kalo lagi di bandung/jakarta jalan-jalan berdua aja kesana kesini. Naik gojek duaan. Makan sushi tei depan-depanan sambil sok ngobrol kaya orang gede :)) Selain bonding, ngelatih team work, dan ngasih kepercayaan diri juga bahwa kita bisa full hands on (walaupun rempong bingits).

Say No

Ini penting banget buat dilatih, karena seringnya kita takut bilang Tidak. Set things straight, and prioritize. Ingeeeet, banyak peran yang kita jalani. Kalau mau bisa ngerjain semuanya, we must put STOP on everything that doesn’t matter in the moment.

Jangan jadi yes woman dan banyak mengorbankan hal-hal penting. When your child is sick, everything else CAN wait.

Accept feeling guilty

Naini, racun banget buat ibu-ibu. Feeling guilty.

Banyak banget hal yang terjadi dan merasa kita sangat incapable semacam remahan di lantai. Merasa inadequate jadi ibu karena kita gak bisa full disamping anak, gak bisa maksimal jadi dokter, jadi anak, jadi kakak, jadi leader, dannn semua peran-peran kita yang lain. Being guilty adalah hal yang manusiawi, hal yang harus diterima. But we have to get over it dan move on.

Terkait menjadi ibu yang gak selalu ada disamping anak, saya selalu inget orangtua saya. Mereka sibuk luar biasa, tapi gak bikin ikatan antara orangtua-anak juga jadi renggang. Kalau kata mbak Laura, “You don’t need to be there every second of your kids’ life for them to know they’re loved”. InsyaAllah perjuangan keluarga, keridhoan suami, istri, anak untuk keluarganya beramal sholeh jadi pahala buat semuanya.

Dan kalau misalkan terjadi badai lagi yang bikin potensi kita merasa bersalah, selama saya menjalani kehidupan sebagai Ibu selama 16 bulan ini, intinya sih ya terus usaha perbaiki yang kita bisa, try to make it work.

You make it work. We rise to whatever the situation demands, and through this we achieve greatness. It’s nice to be in a comfort zone, but we only grow by leaving that comfort zone and taking on the next challenge.

Me time is no crime

Happiest mother is the greatest ❤

IMG_2612
Bonding time ❤ ❤ ❤

***

Oke ini udah panjang banget, saatnya postingan ini disudahi. Besok jaga IGD pagi! Please komen dibawah kalau teman-teman ada surviving tips dan pandangan lainnyaa ya, let’s have a discussion then, hehe :*

Bandung, 24 April 2018

Jafar 16 bulan

Road to LPDP #4: Assessment Online Part 2

Disclaimer: Tulisan ini dibuat ketika sudah tahap acceptance 😀

Tulisan ini dirampungkan karena banyak yang bertanya tentang hasil LPDP saya hehe. Apalagi sudah pake judul yang ada part 1-nya. Kurang afdol rasanya kalau tidak dituntaskan, supaya saya juga bisa belajar.

Sampai sudah perjalanan LPDP 2017 saya di penghujungnya, hehe alias assessment online saya tidak lulus saudara-saudara. Assessment online ini nampaknya banyak menggugurkan peserta seleksi beasiswa. Ya mungkin itu juga alasannya pertama kali di tahun 2017 ini ada assessment online. Pertama kali juga di tahun ini, seleksi LPDP hanya setahun sekali. Jadi tidak ada kesempatan mengulang di tahun yang sama.

LPDP fail

Saya banyak bertanya ke sesama pejuang seleksi LPDP, dari semua yang saya tanya, hampir gak ada satupun yang lulus, sedikit sekali penerimaan LPDP spesialis tahun ini nampaknya ya. T___T

Oke, jadi apa dan bagaimana sih assessment online itu:

Instruksi awal dari LPDP adalah sebagai berikut:

LPDP fail 2

Kesan saya ketika mengikuti VMI dan 15FQ+ adalah, bingung hehe. Banyak pertanyaan yang berulang, dan lumayan hampir 322 pertanyaan yang diberikan, dibutuhkan konsistensi jawaban. Rasanya seperti mengerjakan pertanyaan yang 16 kepribadian waktu jaman OSPEK yang akhirnya keluar hasil kita ini ENTJ, INFP, dst. Opsi pilihannya tidak ada benar salah, dimulai dari sangat tidak setuju, tidak setuju, ragu-ragu, setuju, dan sangat setuju. Kuesioner yang dari dulu paling g saya suka banget, bikin bingung karena standar pengisiannya :DD

Jujur, awalnya mgkn saya agak menyepelekan tahapan ini ya, karena di kepala saya sederhana, why should eliminate people based on character? Apa yang LPDP cari? Dan eh ternyata beneran gagalnya disini. Saya dan teman-teman lain yang juga gagal sama-sama bertanya, WHY? WHY? WHY? WHY?!!! Apa alasan ketidaklulusan kami? Karakter saya dan teman-teman aja rasanya jauh bangeet ya, ada yang introvert, extrovert, dsb. Jadi sebenarnya apa yang dicari LPDP? (mungkin ada yang bs bantu saya menjelaskan ini?)

Kekecewaan pasti ada ya, apalagi karena seleksi ini bukan hal yang nilai kt bisa terukur diatas kertas apa aja yang kurang dan harus diperbaiki. Ketika dapat hasil ketidaklulusan, yang ada justru rasa penasaran, kira-kira karakter/ hal apa yang dicari LPDP. Berhubung suami saya lulus assessment online, saya jg jd mengamati, emangnya suami itu orangnya seperti apa (ahaha). Dan sampai sekarang saya jg msh belum tahu jawabannya.

Setelah tanya ke teman-teman saya yang awardee LPDP tahun-tahun sebelumnya, mereka jg g bs kasih jawaban karena sblmnya assessment online g ada. Jadi setelah lulus administrasi langsung cuss seleksi substansi.

Berdasarkan saran teman-teman, saya diminta untuk mengirimkan email ke LPDP mengenai alasan ketidaklulusan. Karena katanya penjelasan ketidaklulusan biasa difasilitasi oleh LPDP, terutama bagi yang akan mengulang seleksi supaya proses selanjutnya lebih baik. Sampai saat ini masih belum ada respon lebih lanjut, masih menunggu hehe. Kalau sudah ada nanti saya update yaa 🙂

InsyaAllah tahun depan coba lagi. ^^

3 Month Post-partum Update :)

Postingan ini dibuat ketika anak usia 3 bulan, tapi pending 7 bulan sampai akhirnya di publish -___-

Tiga bulan pertama paska melahirkan sering dibilang sebagai trimester ke-4, karena di awal-awal anak bayi lahir, adaptasi yang harus dilakukan ibu dan anak (plus supporting system-nya) adalah luar biasa.

Pertama kalinya saya merasakan cape yang rasanya gak habis-habis, sejak proses kelahiran yang lengkap maneuver-nya (Birth story baby J lengkappp, dibalon dan diinduksi, sampai anak lahir dan berusia 3 bulan, rasanya gak ada berenti capenya. cape kronis ya hehe).

IMG_4427
My Supporting System Since Day 1 – Muka udah hinyai burinyai nunggu kontraksi ^^’

Alhamdulillah, di usia 3 bulan Jafar, semua cenderung lebih stabil, dan sudah mulai nemu ritme hariannya. Walaupun ya you can’t expect anything dari bayi, karena beneran di hari ini bisa aja A, tapi besoknya bisa aja Z. Hal-hal yang kita anggap berpola, ternyata g ada sama sekali, selalu ada faktor-faktor dan kejutan tak terduga tiap harinya. Hehe.

FullSizeRender 3

Di usia Jafar yang sudah menginjak 3 bulan 25 hari ini (soon to be 4 months old!) alhamdulillah lebih ekspresif, responsif. Gak sabar ya nak untuk belajar 🙂 Sudah pengen duduk dan tegak-tegakin badan kalau didudukin, padahal tengkurep aja masih doeng doeng, hehe. :DD

Bagaimana dengan kondisi ibu?

Tentu proses penyembuhan secara fisik sudah selesai ya, cuma memang capenya yang gak habis-habis itu bener banget. Apalagi kadang saya beneran cuma berdua aja sama anak. Tanpa siapapun, jadi harus dibawa kemana-mana. Hasilnya BB turun 20 kg, hehe surplus daripada berat hamil bahkan!

Excited banget menyambut hari-hari kedepannya bersama Jafar.

Ibu & Ayah sayang sekali Nak. Sepenuh kasih dan sayang kami ❤

IMG_6301

 

Jika anak sakit, maka ibu?

Ini hari ke-4 Jafar rawat inap di RS. Udah bisa nulis, artinya anak bayi semakin baik kondisinya (aamiiiinn). Sekarang tidur sudah lebih lama, durasi nangis juga lebih berkurang. Sebelumnya sensi banget sama yang namanya infusan. Kesenggol dikit bisa nangis lamaaa bingittt, sekarang nampaknya sudah (mulai) acceptance.

Pertama sakit hari Senin kemarin, demam disambung dengan diare sehari bisa >12x. Karena demamnya semakin naik, dan diare semakin sering, akhirnya senin malam Jafar saya bawa ke lab untuk pemeriksaan feses. Hasilnya positif bakteri, dan occult blood test (+), kalau dari gejalanya: diare, demam, dan nyeri perut setiap BAB, plus pemeriksaan feses, sugestif ke arah diare dysentriform atau biasa disebut disentri.

Hari senin karena Jafar masih mau makan dan minum, akhirnya saya bawa pulang lagi + bekel obat (zinc, lactoB, sanmol, dan antibiotik *pemberian antibiotik hanya jika sugestif infeksi bakteri yaa ibu-ibu). Tapi di hari selasa, diarenya semakin sering, demamnya semakin tinggi, dan perutnya nampak semakin sakit. Sampai akhirnya Jafar g mau menyusu dan minum saking lemesnya, ngantuk terus. Ibunya mulai panik T__T.

IMG_0181
Cepat sembuh sayang…

Akhirnya Jafar saya bawa lagi ke IGD, sampai di IGD udah lemes. (Ibunya pun ikut lemes :D) Berhubung suami dan orangtua lagi di luar kota, akhirnya saya ke IGD berdua sama ART. Berasa single fighter yesshh, karena tentu ART belum bs diandalkan untuk bagi2 tugas yang terlalu rumit misalnya administratif seperti urus daftar IGD, rawat inap, dst.

IMG_0129
Pertama masuk IGD setelah diinfus

Hal yang paling sulit ketika anak sakit?

Sejauh ini paling berat buat saya adalah MINUM OBAT. Karena DSA (Dokter Spesialis Anak) saya keukeeuh g mau kasih antibiotik IV atau suntik. Biar lebih cepat pulang, yes, dan juga beliau pengen ngajarin saya gmn caranya handling anak sendiri ^^; kemarin akhirnya dicontohin langsung cara ngasih obat ke anak yang wowww ngeri ngeri sedap. Saya dan suami selama ini berusaha keras supaya anak tdk memiliki childhood yg traumatik dan potensi menimbulkan efek jangka panjang, layaknya orang-orang dulu sering lakukan, misalnya minum obat dicekoki, makan dipaksa sampai disorong-sorong ke muka, dsb.

Tapi pada akhirnya, orangtua harus tega dan siap melakukan yang MEMANG HARUS dilakukan. Kalau ndak, penyakitnya ndak berprogress, dan justru potensi menimbulkan mudharat ke anak yg lebih besar. Jadi, nangis + ngamuk ketika minum obat, hajar bleh! Pokoke harus! 

Bener sekali ya, setiap kejadian terkait anak sebenarnya adalah proses pembinaan Allah untuk menjadikan kita orangtua yang lebih baik, lebih matang, dan lebih sabar. Kalau anak sakit, Allah ada dimana? Ujian buat ayah dan ibu ya Nak… Mudah-mudahan kami lulus T___T

Kenapa bisa sakit?10707124_959338804093813_102335905_nLayaknya kematian, sakit, sehat, susah, senang, jodoh, semua takdir Allah. Mau bagaimanapun usaha kita menghindari, kalau takdirnya ya pasti terjadi. Mau bagaimanapun usaha kita mendekati, kalau bukan takdirnya tidak akan terjadi.

Disambung lagi dengan ini: 3b7d0934128caaf025cf36f3300c21f0--muslim-quotes-islamic-quotesApa yang baik menurut kita, belum tentu baik disisi Allah. Apa yang tidak baik menurut kita, belum tentu jelek di sisi Allah. Karena baik dan tidak baik bukan dilihat dari hal-hal yang diatas kertas dan dimata manusia lebih unggul.

Mungkin diberi ujian begini, supaya Ayah dan Ibu (kami) belajar untuk lebih bersyukur. Karena sungguh ya, anak adalah amanah, anak adalah titipan. Kebersamaan ini tidak akan selamanya. Kecuali jika suatu saat nanti, Allah takdirkan kita berkumpul kembali lengkap di surgaNya, dan inilah yang harus menjadi cita-cita sejati.

IMG_0151
Kumpulkan kami kembali di surgaMu ya Allah

Dengan cinta, selalu…

Ibu.

Why it’s so hard to write again?

HEJ!

Assalamu’alaikum, dimulai dengan bahasa swedia ya, HEJ! means HEY!  karena sekarang saya tinggal tetanggaan sama toko favorit kita bersama: IKEA, ehehe. Gak depan-depanan banget sih, daerah Alam Sutera, tapi yaa less than 10 minutes lah. The yellow-blue banner is in front of my eyes! *squee

Karena per Agustus ini suami saya mulai magang ortopedi di RSUD Kabupaten Tangerang, plus juga masih kerja di RS Sari Asih Ciledug (OMG tight schedule mamak wanna craaay~). Dengan jadwal yang ada, sulit untuk bolak balik Bandung-Jakarta sesering kemarin, jadi selama magang ini kami sekeluarga akan banyak menetap di Tangerang, lokasinya tengah-tengah antara dua RS tersebut.

Mulai juga tinggal serumah sekeluarga kecil, belajar mengelola rumah sendiri setelah selama menikah 1,5 tahun ini nemplok di bandung semua serba mudah (memang yaa pengeluaran saat masih tinggal dirumah orangtua itu bisa sangat ditekan…). Motherhood, familyhood, dan burung hood-hood sejenisnya is indeed upscale your managerial skill above the clouds level ya. Multitasking semua harus beres. Jam 9 waktu limit saya: nyapu, ngepel, cuci piring, lap-lap, sarapan keluarga (plus bayi), dan jafar sudah mandi. Semakin siang rumah beres, semakin sedikit to do list harian yg bisa dilakukan. Rumah berantakan daku rungsing seharian pula T___T No wonder ya turun BB sampai >25 kg. No nanny, no ART. Semangat Ibuuuu *otot*

Oke move on dari rumah…

Belakangan inipun saya semakin ngeh,

  1. Semakin introvert sama personal things ya, terutama keluarga, perasaan terdalam *haiyyah*. Bahkan sekedar nulis caption panjang-panjangpun sulit, caption curhat gitu sulit bahkan gak bisa. Skrg yang pendek-pendek aja to the point.
  2. Lebih tidak tertarik dwelling into feelings; kalo kata anak-anak Medulab: ANTI GALAU. Mungkin lebih ke arah menarik diri dari hal-hal yang terlalu dramatis dan melankolis ya. Yang pasti-pasti aja harus dikerjainlah.
  3. I found it hard untuk MENULIS, secara disiplin. Banyak hal yang ingin saya share, diskusikan. Tapi kenapa jari ini tak lagi gemulai menari di atas keyboard *apazik* ehehe.

AND… I’m officially turning 26!

My life turning point of 26, is, definitely, being a mother. Amanah yang luar biasa yang Allah titipkan. Mudah-mudahan kami bisa menjaga amanah ini dengan baik, mengantarkan keluarga ini menuju ridho Allah yang sejati.

Ja’far Ahmad Prawira, selamat datang di kehidupan Ibu.

 

FullSizeRender 4

Road to LPDP #3: Assessment online part 1

17 April is coming! It means pengumuman seleksi administrasi LPDP yang kemarin sangkuriang itu :DD Pake darah, airmata, lutut disko, ncess bayi, modem smartfren dan kopi mihils paporit. Dan tentu, above all, laa maujuda illa Allah. Tidak ada satupun yang terjadi, satupun, tanpa kehendak Allah atasnya.

Deg-degan sampai sempet g mau buka, wk wk wk lebay.

ALHAMDULILLAH! Both me and my husband passed ❤

LPDP 3LPDP2

Alhamdulillah pecah bisul 1 dari belasan bisul berikutnya (ini apasih perumpamaannya g banget ahaha). Karena rentetan seleksinya masih super panjang >.<

What’s next: Assessment Online! and no one knows what is that anyway, secara tahapan assessment online baru ada tahun ini. Jadi semua menebak-nebak, ada yang bilang wawancara online-lah, psikotes-lah, dsb.

Trend-nya semakin kesini LPDP makin ribet persyaratan dan urutan seleksinya, jadi saran temen-temen saya, segera mendaftar! Sebelum beneran susah banget dan semakin mahiwal.

Finally oh finally, setelah lelah menebak, hari ini ada email masuk dari LPDP. Terkait assessment online itu apa bagaimana dengan siapa, sekarang sedang berbuat apa *jadi nyanyi*.

Assessment Online

Oke berarti fix assessment online itu beneran “assessment” bukan wawancara, semacam psikotes online ataupun tes kepribadian online. Berhubung mantan anak kaderisasi (forever a part of me), jadi kepo juga, apa sih VMI dan 15FQ+ itu actually. Sampai lembaga sekelas LPDP pakai itu sebagai salah satu tahapan seleksi.

Selama ini tes kepribadian udah cukup buanyak buanget di internet, bahkan di awal saya MABIM jaman dulu pun anak-anak wajib ikut tes kepribadian yang ada 16 itu loh, yang extrovert/introvert, intuitive/sensing, feeling/thinking, judging/perceiving. Sangat sangat membantu untuk mengenali diri sendiri, walaupun hasilnya berubah seiring dengan milestone kita. Back then I was an ENTJ, but after marriage I’m a bit more INTJ (introvert) maybe because now I have my husband to listen all my chitty chatty, and after being a mom, I become more of INTP (Perceiving). The only constant thing is change, I guess :DD

Anyway, buat saya yg anak pembinaan dan kaderisasi, tes tes semacam ini really helps. Setidaknya biar g subjektif dlm menentukan penilaian dan terapi untuk peserta/kader. Ya mungkin seiring waktu tools assessment akan semakin banyak dan canggih ya, tentu makin akurat dan mudah2an memang aplikatif.

Will have my assessment online on 25 April 2017, jadi skrg waktunya siap-siap dan banyak baca. 😀 Mohon do’anya ya ❤

Hongkong Bound 2014: Travelling Rombongan

Tulisan ini harusnya diikutsertakan ke lomba blogging tapi apalah daya mamak mamak kejar deadline ini rasanya kejar daku kok ndak ketangkap-tangkap, alias mission almost impossible wkwk. Yasudahlah mari kita post draft tulisannya daripada dianggurin hehe #blogcompetition #travelblogger #WeGoDiscoverHK #DiscoverHK #semuapakehashtag #padahaltelatheeyy #hiks


“Traveling is a matter of seeking a great perhaps. Opening up to possibilities and chances that what might happen, will guide you to better places, journey, and maybe, your life turning point.”

Salah satu hal yang paling khas dari karakter kami sebagai orang Bugis adalah kekeluargaan. Hobby yang paling jelas dan rutin dilakukan tentu, traveling rombongan! Seru, hectic, banyak chaos, tapi tetap happy.

Saya pribadi agak kurang suka dengan sistem tour guide yang liburannya sudah diarrange terkadang jadi terburu-buru dan tidak menikmati, sudah begitu partner liburannya pun orang-orang yang tidak dikenal. Lebih baik bersama keluarga, dan kita sendiri yg jadi tour guide-nya. Apalagi sekarang informasi tentang destinasi wisata sudah banyak di internet. Kita bisa bikin itinerary sendiri yang cocok dengan gaya traveling kita 😉

Hal yang paling penting dalam traveling keluarga: Destinasi! Tujuan wisata harus bisa mencakup interest semua kalangan, supaya siapapun yang berangkat bisa menikmati perjalanan. Anak-anak, dewasa, kalangan ibu-ibu, bapak, ABG, tua, muda.

Di tengah perjalanan internsip saya tahun 2014, saya sempat pamit “refreshing” sebentar ke hongkong bersama keluarga besar. Bayangkan rute-nya: Baubau-Makassar-Jakarta-Hongkong pp. Habis waktu di transit hehehe 😀 Cerita keberangkatan saya ada di sini: Hongkong Departure Story

Di hongkong kurang lebih 5 hari aja, dan tiap harinya full olahraga kaki alias jalan dengan jarak g santai yang kalo ditotal bisa jadi jalan kaki terpanjang seumur-umur. Hiks. Voltaren mana voltaren.

Salah satu hal yang saya kagumi dari negara luar adalah kedisiplinan dengan public transport (tentu sajaaah qaqaq). Mungkin ini juga penyebabnya ya saya hampir g pernah liat ada orang obesitas. Jalan kaki terus kakaaaa gempor masyaAllah.

Hongkong itu mirip apa ya, hmm… Sekilas mirip Shanghai dengan budaya manusia-nya yang less chinese dibanding Shanghai (lah maksudnya gimana tuh wk). Mungkin

karena Hongkong lebih terbuka dan area bebas keluar masuk gitu ya. No visa needed juga kan. Jadi “budaya” khas-nya udah hampir g ada, lebih kerasa kaya kota turis semacam Singapura juga, tapi more crowded dan agak chaotic.

Yang bagus di Hongkong sebagai tujuan destinasi keluarga adalah: lengkap! Mau itu tempat belanja lengkap dari yang murah sampe mahils buat ibuk-bapak, tempat main buat anak-anak (disneyland yhaa), pemandangan sky scrapper building, sungai dengan skyline kece di malam hari, dsb. Semua ada disini buat orang yang hobby traveling, kecuali udara seger wkwk. Apa karena lokasi tempat nginep kami di area suburb yang pengap, ya mungkin juga. Tapi udaranya teh yaa kering pengap meni sedih hixx.

Eh, ada deng yang g ada: wisata kuliner! Buat muslim, pergi ke negara yang basis-nya Chinese emang agak ngeri urusan makanan. Susah banget memang. Tapi karena destinasi wisatawan muslim dan banyaknya juga TKI kesini, hongkong lebih possible buat kita dapet makanan halal. Karena tau kondisi tersebut, dan berhubung kami traveling rombongan yang mostly anak-anak, dari Indonesia kami udah siap bawa ayam goreng dan makanan kering tahan lama yang buanyak hampir sekoper. Di hongkong beli magic jar dan beras, hehe. Terus masak nasi deh di hotel :DDD

Ini dia top destinasi hongkong versi sayahh:

  • Disneyland Hongkong: Isn’t it obvious ahaha, mungkin disneyland terdekat dan termurah dari Indonesia ya di Hongkong. Childhood remedies banget memang disneyland itu. Best part-nya tetep, closing fireworks
  • Ngong Ping 360; Ini kita semacam naik cable car super jauh dan melewati beberapa bukit di Hongkong. Pemandangan tinggi jadi bisa liat Hongkong dari atas. Such a pweety sigh 🙂 Berhentinya juga di Ngong Ping Village yang jadi jalur buat ke patung budha besar. Tapi ya jauh banget udah keburu mager :DD
  • The Peak; Kita naik trem keatas buat liat hongkong. Cantik banget buat sore ke malam hari. Bisa dapet sunset dan lampu malam hari di kota Hongkong

And the last but not the least: Tsim Sha Tsui Waterfront

Mungkin karena saya gak suka belanja ya dulu jadi postingan lokasi liburan emang gak ada belanjanya sama sekali hehe. Eksplorasi kota-nya sendiri terbatas banget karena yang namanya travelling rombongan ya itu konsekuensinya, harus mengutamakan kepentingan bersama :DD

Sekian rendezvous kali ini, sampai jumpa di postingan travel selanjutnya ❤

A 2014 rendezvous: Hongkong Departure Story

(A throwback post from 2014)

Sekarang saya sedang berada dalam perjalanan pesawat menuju… Jakarta. Bukan buat pulang kampung, tapi buat travelling part kesekian ke… Hongkong. Kurang random gimana ya kan? Dokter internsip di kota Bau-Bau tapi jalan-jalan jauh.

Sebenernya bisa-bisa aja, soalnya skrg saya lagi stase IGD. Bisa libur asalkan yang lain mau cover. Dan teman-teman saya yang baik-baik dan lucu-lucu itu *uhuk* juga pada mau pulang dan dengan senang hati mau saling menggantikan.

Sepupu-sepupu saya, ya mostly sih g semua, pada liburan kesana semua, kira-kira ber 15. Dan saya udah dibeliin tiket. Ayah mengizinkan dan malah instruksikan pergi, saya yang sebenernya agak mager ini jadi berangkat. Booo, dari Bau-Bau ini berangkatnya, bukan Bandung. Ngebayangin perjalanannya aja udah males duluan hiks. Cape -,-

Ya kapan lagi liat Hongkong gratis. Ya gak gratis sih, tiket Baubau-Jakarta ttp byr sendiri huhuhu. AUUUMMMM!

***

IMG_9482
12 jam di pesawat = kelelahan yang HQQ

Yak lanjut nulis yg kepotong, skrg sy di pesawat menuju HK. *fyuuuuhh

Banyak diberi kesempatan travelling ke berbagai tempat, yang berbeda-beda, melihat banyak hal, dan merasakan langsung, semoga membuat saya makin pandai menelusuri hikmah dan pelajaran. Makin awas dalam melihat dan berpendapat.

Bahkan di perjalanan awal aja udah banyak masalah terjadi. Saya rencana bawa ikan tuna segede batang pohon kelapa dgn panjang 1-1,5 meter (asli guede) 4 ekor buat pompo, udah ngurus segala macam izin di Departemen Perikanan dan bikin surat pengantar eeeh di bandara dicegat dan ditahan. Batal. Pas di bandara Makassar pesawat delay, akhirnya saya (demand dengan keras ke lion air) pindah pesawat eeeetapi bagasi saya g ikut pindah masih di pesawat yg delay. Padahal saya harus connecting flight ke hongkong siangnya langsung.

It’s a miracle to actually sit here, writing things to you, INSIDE this airplane, on my way to HK. Perjuangan ini booooo~ *exhaustion sigh* Kalau Allah takdirkan jadi berangkat, mau jumpalitan segimanapun, kibar2 bendera putih, koprol dari terminal 1 ke terminal 2, pasti tetep bisa berangkat. Despite all difficulties that I have, there has been always bright lights in the end of the dark tunnels, leading me to find a way out. *lagi lebay*

It really is a big burden for me to travel here and there. Even if I go for a year to Buton, or even a short trip to any country. Because I will be expected to do better, to be better. That’s the tricky question -,- so I will forced myself to absorb, think, and learn things deeper abt whats happening in my surroundings during my personal trip. Hopefully, other expectation won’t turn into dissapointment. 😦

 

Our journey is personal. Even if I am travelling with you, your journey will not be mine. Nor I yours.